Kompleks Makam Bulo-bulo terletak diatas salah satu bukit di Tampu Cidu, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai. Sehingga kompleks makam ini juga biasa dikenal dengan makam Tampu Cidu. Situs dapat dicapai dengan mudah, baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Kompleks makam tersebut dapat ditandai oleh lahan dengan kemiringan yang landai yang sebagian besar sisi-sisi situs digunakan masyarakat setempat sebagai area pemukiman. Vegetasi sekitar situs berupa tanaman jangka panjang seperti jati, jambu, dan lain-lain. Secara keseluruhan kompleks makam Bulo-bulo merupakan sebuah kompleks makam yang di dalamnya terdapat 21 (dua puluh satu) buah makam, 20 (dua puluh) buah makam merupakan makam terbuka sedangkan makam La Ganing masuk dalam kategori makam tertutup. Dari sekian banyak makam yang ada di kompleks makam Bulo-bulo, makam La Ganing merupakan makam yang memiliki ciri tersendiri dari makam lainnya. Makam ini merupakan makam bertipe kubah dengan ruangan di dalamnya, namun oleh Belanda pintu kubah ditutupi oleh sebuah prasasti yang bertuliskan Aksara Lontarak dan dipadukan dengan Aksara Belanda. Isi Prasati tersebut “Kunie Ri Lemme’ Abedule Gani Sibawa akkatuonna Arung Bulo-bulo Sibawa Ananna La Pawelloi, Ompo’na Ullemme’ Akkitaung Nakipalatari Massalinri Ricirisi Bawatu”. Adapun bagian-bagian pada makam tersebut adalah terdiri dari : Nisan berbentuk kerucut berukuran 4.20 M, Jirat berukuran : Panjang 4 M, Lebar 4 M, Kubah berukuran Panjang 2 M, Lebar 2 M Tinggi 1.70 M, Pintu Kubah berukuran Tinggi 90 Cm, Lebar 52 Cm, Tebal 14 cm. Abdul Gani (La Ganing) atau Arung Sanjai adalah Arung Bulo-Bulo Sanjai ke-25 yang bergelar Arung Jumpandang, La Ganing adalah Arung yang paling disenangi oleh kompeni karena berhasil menyelesaikan pekerjaan pembukaan jalan dari Bulo-bulo hingga ke Appareng yaitu daerah perbatasan antara Bulukumpa dengan Bulo-bulo. Menurut sejarah La Ganing wafat bersama I Pawelloi anak sulung dari istri pertamanya I Paccing, keduanya meninggal karena diamuk oleh iparnya sendiri yang bernama Massalinri. Massalinri membunuh La Ganing dengan alasan sudah tidak tahan lagi dengan penghinaan yang dilontarkan La Ganing setiap hari di depan umum. Hal itu membuat Massalinri marah besar dan membakar rumah La Ganing beserta isinya sehingga membuat La Ganing hangus terbakar dan yang tersisa hanyalah jenis kelamin Abdul Gani dan anaknya sehingga hanya alat kelamin tersebut yang dikuburkan oleh Kompeni di makam tersebut sebagai bentuk penghargaan terakhir kompeni Belanda kepada La Ganing.
Destinasi budaya Lainnya
Terdapat banyak destinasi budaya yang wajib dikunjungi di Sulawesi Selatan