Monumen Mandala merupakan salah satu bukti perlawanan rakyat daerah
Sulawesi Selatan dalam menentang keinginan Nederlandsche Indesche Civil
Administratie (NICA) yang membonceng tentara sekutu untuk mengukuhkan kembali
kekuasaannya di Indonesia pada umumnya, dan Sulawesi Selatan Khususnya. Selain
itu, Monumen ini juga merupakan salah satu bukti perjuangan rakyat Indonesia Bagian
Timur untuk mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dalam bingkai negara
kesatuan.
Monumen Mandala berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 1 Ha dimana
pembangunannya dimulai pada tahun 1994 yang diprakarsai oleh H. A. Zainal Basri
Palaguna, Gubernur Sulawesi Selatan pada saat itu, dan peletakan batu pertama
dilakukan pada tanggal 11 Januari 1994 oleh Soesilo Soedarman, Menteri Koordinator
Politik dan keamanan (Menkopolkam). Monumen Mandala kemudian diresmikan oleh
Presiden Republik Indonesia H.M. Soeharto pada tanggal 19 Desember 1995.
Monumen ini didirikan untuk mengenang sejarah pembebasan Irian Barat pada
tahun 1962. Dibuat dengan bentuk segitiga sama sisi yang dimaknai sebagai TRIKORA
dengan ketinggian menara 62 meter sampai ke ruang pandang sebagai manifestasi
tahun kembalinya Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi (1962). Kemudian relief lidah api
pada bagian bawah melambangkan semangat TRIKORA dan relief lidah api bagian atas
melambangkan semangat yang tak pernah padam, sedang 27 relief bambu runcing
yang melambangkan alat perjuangan fisik sebelum perjuangan. Lalu kolam yang ada
disekeliling menara, adalah simbol kejernihan berpikir yang mutlak dimiliki dalam setiap
perjuangan. Pada bagian puncak, terdapat sebuah harde yang berfungsi menangkal
petir sekaligus sebagai simbol cita-cita tinggi yang hendak dicapai.
Di samping simbol-simbol yang melekat pada bagian luar monumen ini, pun pada
bagian dalam monument ini terdapat Museum Mandala yang menggambarkan
perjalanan sejarah perjuangan masyarakat Sulawesi Selatan dalam menentang
penjajahan Belanda dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang telah
di proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Pada lantai pertama terdapat 12 (dua belas) diorama yang menggambarkan
perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia di Pulau Sulawesi. Selain itu, pada
lantai pertama ini terdapat tiga buah relief dan 9 (sembilan) buah replika pakaian
pejuang abad XVII sampai dengan XVIII. Pada lantai kedua Monumen Mandala terdapat
12 diorama dan tiga relief yang menceritakan tentang perjuangan bangsa dalam
membebaskan Irian Barat. Lantai tiga merupakan ruang kerja Panglima Mandala yang di
dalamnya terdapat peta Irian Barat, foto-foto persiapan pemberangkatan ke medan
tugas di Irian Barat, tanda jabatan dan pakaian yang dipakai pada saat Operasi
Mandala. Terakhir, di lantai keempat adalah ruang pandang yang berfungsi untuk
melihat Kota Makassar dari ketinggian.
Destinasi budaya Lainnya
Terdapat banyak destinasi budaya yang wajib dikunjungi di Sulawesi Selatan