Kapal Pinisi, identik dengan suku Bugis-Makassar. Hal ini dikarenakan kapal layar tersebut banyak digunakan orang-orang Bugis-Makassar untuk mengurangi Samudera Sejak Tahun 1500-an. Tidak hanya dalam pelayaran di wilayah Nusantara untuk menangkap ikan, tapi pinisi juga terbukti tangguh dalam pelayaran ke berbagai Negara di belahan Dunia, khususnya dimasa perdagangan rempah-rempah. Dalam proses pembuatan kapal pinisi, dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, dengan berbagai ritual yang melambangkan makna tertentu. Pembuatan Pinisi dilakukan pada galangan kapal yang disebut bantilang, yang umumnya dibuat oleh masyarakat Bulukumba, dengan melibatkan puluhan orang. Mereka terdiri dari punggawa (tukang ahli), Sawi (tukang-tukang lain yang membantu punggawa), serta calon-calon sawi. Pembuatan kapal Pinisi diawali dengan pencarian dan penebangan pohon yang akan dijadikan bahan membuat kapal. Namun sebelumnya, para pengrajin harus menghitung hari baik untuk memulai pencarian kayu, yang biasanya jatuh pada hari kelima dan ketujuh bulan berjalan. Angka lima diartikan bahwa rejeki sudah ditangan (naparilimai dallena), sementara angka tujuh bermakna selalu mendapatkan rejeki (natujuangngi dallena).

 about-img

Destinasi budaya Lainnya

Terdapat banyak destinasi budaya yang wajib dikunjungi di Sulawesi Selatan