Dalam masyarakat Makassar pada masa lalu tumbuh dan berkembang sejumlah cerita rakyat yang beredar dalam masyarakat. Cerita-cerita tersebut digemari oleh masyarakat. Dalam penuturannya cerita ini diiringi oleh sejenis Rebab yang dibawakan oleh Sipenutur. Rebab itu disebut Sinrili. Bentuk Sinrili lebih menyerupai perahu yang perutnya lebih besar dan agak bulat. Sementara gagangnya dan alat pemutar dawainya lebih pendek. Pada bagian permukaan darat badan terbuat dari kulit kambing yang telah dihaluskan. Menyebut nama Sinriliq sesungguhnya kata tersebut mengacu pada tiga hal : yang pertama adalah nama alat itu sendiri, dan yang kedua juga berarti sebuah tradisi bertutur atau bercerita dalam masyarakat etnik makassar. Dalam bertutur teks-teks cerita dibawakan dengan berirama (berlagu) sambil diiringi dengan gesekan sinriliq. Selain itu sinriliq juga menunjuk pada teks-teks yang dibacakan yang berarti cerita, misalnya menunjuk Sinriliqna Kappalaq Tallumbatua, yang berarti Cerita tentang Tiga buah kapal. Pada masa kejayaannya kesenian ini menjadi kesenian yang sering dijumpai pada setiap acara tradisional dalam masyarakat, seperti Perkawinan, Sunatan, Naik Rumah Baru, Pesta Panen dan lain-lain sebagainya. Selain itu tradisi lisan ini juga sering dipertunjukan pada saat beristirahat setalah seharian bekerja dan ketika sedang ronda malam di kampoeng. Namun dalam perkembangannya kesenian ini semakin kurang diminati dan pelakunya pun kian berkurang. Hal ini sejalan dengan kian banyaknya jenis hiburan baru dalam masyarakat yang menggantikan fungsi Sinriliq pada setiap acara hajatan dalam masyarakat Makassar.
Destinasi budaya Lainnya
Terdapat banyak destinasi budaya yang wajib dikunjungi di Sulawesi Selatan